• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • 2024
  • Oktober
Arsip 2024:

Oktober

PKGM Sampaikan Hasil Kajian Implementasi Model Best Practice Kampung Keluarga Berkualitas BKKBN

Berita Selasa, 29 Oktober 2024

Bantul, PKGM- Rabu, 23 Oktober 2024 bertempat di Hotel Grand Rohan Yogyakarta, Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan kegiatan diseminasi Laporan Kependudukan Provinsi Tahun 2024 dan Laporan Implementasi Model Kebijakan Hasil Studi Kasus Stunting Provinsi di Kampung Keluarga Berkualitas. 

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia, dalam hal ini diwakilkan oleh Ibu Dr. Lily Arsanti, STP., MP, menjadi salah satu pengisi dalam sesi panel yang menyampaikan laporan kajian “Implementasi Model Best Practice Kampung Keluarga Berkualitas untuk Percepatan Penurunan Stunting.” Ibu Lily memaparkan temuan-temuan kajian selama pelaksanaan program model best practice di Kampung Keluarga Berkualitas (KB) Condongcatur, Depok, Sleman, DIY.

Penguatan peran keluarga untuk menanggulangi stunting dilakukan oleh BKKBN salah satunya melalui program Kampung Keluarga Berkualitas. Model Best Practice Kampung KB merupakan program intervensi yang menggabungkan berbagai kegiatan di Kampung KB seperti cuci tangan pakai sabun, posyandu, BKB, DASHAT, GERMAS, dan menyuapi aktif guna menurunkan stunting melalui pendekatan perilaku kelompok sasaran. PKGM melakukan kajian untuk mengevaluasi pelaksanaan program tersebut yang diujicobakan secara terbatas di Kampung KB Condongcatur. 

Berdasarkan kajian, meskipun program model best practice Kampung KB dapat dijalankan di Kalurahan Condongcatur namun belum memberikan dampak terhadap perubahan perilaku kelompok sasaran. “Belum terlihatnya perubahan perilaku dapat disebabkan karena kegiatan edukasi kurang berjalan efektif dan partisipasi peserta yang kurang aktif”, ujar peneliti PKGM yang akrab dipanggil Ibu Lily tersebut. Ibu Lily juga menyoroti tentang tantangan keberlanjutan program model best practice berkaitan dengan tingginya beban biaya. 

Dalam kegiatan diseminasi hasil kajian ini disampaikan juga policy brief yang telah dirumuskan oleh tim peneliti PKGM. Ibu Lily menjelaskan rekomendasi penguatan program berupa strategi untuk meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program dengan pendekatan Model, Commitment, dan Network (MCN). MCN menyoroti pada perbaikan aspek model atau desain program, peningkatan komitmen stakeholder, dan pengembangan jejaring kerjasama.  

Kegiatan diseminasi dihadiri oleh berbagai instansi terkait yang merupakan mitra kerja BKKBN Yogyakarta. Turut hadir dalam kegiatan para pelaksana dari Kalurahan Condongcatur sebagai lokus kegiatan program implementasi model best practice Kampung KB. PKGM berharap semoga temuan dalam kajian ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan program di masa mendatang.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs dalam mengakhiri kemiskinan (tujuan 2), menciptakan kesehatan dan kesejahteraan yang baik (tujuan 3), memberikan pendidikan bermutu (tujuan 4), kesetaraan gender (tujuan 5), dan menjalin kemitraan untuk mencapai tujuan (tujuan 17).

 

Penulis: Lintang Aryanti

Manfaat Diversifikasi Pangan Lokal Terhadap Kesehatan

Konten Edukasi Kamis, 17 Oktober 2024

Pangan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting, karena dimanapun manusia berada, pasti membutuhkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat ini, kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia masih cukup rendah, kurang beragam, serta masih didominasi dengan pangan sumber karbohidrat terutama berasal dan gandum. Padahal, pangan lokal di Indonesia cukup beragam, dan memiliki kandungan gizi yang tidak kalah penting dengan beras maupun gandum.

Menurut Undang – undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012, pangan lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Umumnya, pangan lokal diproduksi, diolah, dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat, serta memiliki keunikan tersendiri yang dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim, dan tradisi kuliner daerah tersebut. Pemenuhan pangan pokok tidak hanya dipenuhi dari beras, sehingga perlu diversifikasi pangan yang telah dituangkan dalam Perpres No 22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Diversifikasi pangan lokal telah menjadi isu penting dalam upaya mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pola makan sering kali didominasi oleh beberapa bahan pokok seperti beras atau gandum, yang menyebabkan ketergantungan tinggi terhadap satu jenis pangan. Diversifikasi pangan adalah upaya untuk memperluas spektrum sumber makanan dengan memanfaatkan berbagai jenis bahan pangan lokal yang ada di suatu daerah.

Indonesia memiliki sagu, jagung, singkong, dan ubi jalar yang merupakan sumber pangan lokal yang melimpah. Namun kurang dimanfaatkan dan kurang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dibandingkan beras. Padahal jika dilihat dan diteliti lebih lanjut berbagai macam pangan lokal mulai dari umbi – umbian, buah – buahan, sayuran, kacang – kacangan, dan biji – bijian memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas diet masyarakat.

Diversifikasi pangan lokal tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan pangan, namun juga dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan, seperti meningkatkan asupan zat gizi dalam tubuh serta mencegah terjadinya penyakit dalam tubuh. Berikut pembahasan singkat berbagai manfaat dari diversifikasi pangan lokal terhadap kesehatan

  1. Meningkatkan asupan zat gizi dalam tubuh

Pangan lokal lebih kaya akan kandungan gizinya karena belum mengalami proses pengolahan yang dapat mengurangi kandungan gizinya. Misalnya, umbi-umbian lokal seperti ubi jalar dan singkong kaya akan karbohidrat kompleks dan serat, sebagai sumber energi dan kesehatan pencernaan. Buah-buahan lokal seperti mangga, pisang, dan pepaya, menyediakan vitamin dan mineral penting seperti vitamin C, kalium, serta serat pangan. Demikian juga, kacang-kacangan lokal seperti kacang tanah dan kedelai kaya akan protein nabati, yang berfungsi sebagai sumber protein alternatif selain daging.

Dalam banyak kasus, masyarakat di pedesaan yang mengonsumsi makanan lokal lebih beragam cenderung memiliki pola makan yang lebih seimbang. Data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) 2021 menyebutkan bahwa jenis makanan padi – padian, umbi berpati serta sayur dan buah berturut – turut 4.7%, 31.1% dan 2.1% lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan dibandingkan dengan masyarakat perkotaan yang lebih banyak konsumsi protein hewani, protein nabati, lemak serta minuman.

Dalam Penelitian juga menunjukkan bahwa,  konsumsi beragam pangan lokal dapat membantu mencegah kekurangan mikronutrien yang sering terjadi pada masyarakat yang mengandalkan satu jenis makanan pokok, seperti nasi. Kekurangan mikronutrien ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan serius, seperti anemia, rabun senja, serta osteoporosis.

  1. Pangan Lokal Membantu Mencegah Penyakit Tidak Menular

Diversifikasi pangan lokal juga dapat berperan penting dalam pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Pola makan yang tinggi serat dari pangan lokal seperti jagung, kacang-kacangan, dan sayuran, dapat membantu mengontrol kadar gula darah dan mencegah obesitas, yang merupakan faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2.

Dalam sebuah penelitian (Sihite, 2023) mengungkapkan bahwa, makanan lokal seperti ubi jalar, kaya akan beta-karoten dan antioksidan dapat membantu mengurangi risiko kanker serta penyakit tidak menular lainnya seperti hipertensi, darah tinggi dan obesitas. Selain itu ubi jalar ungu mengandung antosianin yang berfungsi untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya penuaan dini, penyakit kanker, serta membantu mengontrol kadar gula dalam darah. Kemudian, buah – buahan tropis seperti manggis dan rambutan mengandung polifenol dan antioksidan yang membantu melawan peradangan dan mencegah kerusakan sel yang dapat memicu perkembangan kanker .

  1. Meningkatkan Kesehatan Pencernaan

Pangan lokal yang kaya serat, seperti singkong, jagung, serta sayuran hijau lokal, berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Serat pangan membantu memfasilitasi pergerakan usus yang sehat, mencegah sembelit, dan mendukung pertumbuhan mikrobiota usus yang sehat. Mikrobiota usus yang seimbang sangat penting untuk menjaga kekebalan tubuh serta mengurangi resiko peradangan kronis yang dapat menyebabkan penyakit seperti kanker usus besar. Selain itu, serat pangan juga dapat membantu memperlambat penyerapan gula dalam darah, yang penting bagi penderita diabetes dalam mengontrol kadar gula darahnya.

  1. Ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan

Selain memiliki manfaat untuk kesehatan, diversifikasi pangan lokal juga berperan dalam ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Pangan lokal sering kali lebih mudah diakses, lebih terjangkau, dan lebih sesuai dengan kondisi ekosistem setempat, sehingga tidak membutuhkan input pertanian yang tinggi seperti pupuk kimia atau pestisida. Kemudian, dengan memanfaatkan pangan lokal, masyarakat dapat meningkatkan ketahanan pangan mereka, terutama di masa krisis atau bencana alam ketika pasokan makanan dari luar daerah mungkin terganggu.

Penting bagi masyarakat Indonesia untuk mencoba memulai mengkonsumsi dan memanfaatkan pangan lokal Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan secara umum.

Referensi :

  1. (2013). Guidelines for Measuring Household and Individual Dietary Diversity. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations
  2. Sri Widowati dan Rizki Amalia Nurfitriani. 2023. Diversifikasi Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan: Perspektif Ekonomi, Sosial dan Budaya. Penerbit BRIN, 2023 : Jakarta
  3. Diya Salsabila, Lilik Hidayanti, Yana Listyawardhani. 2023. Pola Makan dan Status Gizi Anak Usia Sekolah Dasar di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. Jurnal Riset Gizi. Vol. 11 No 2 2023
  4. Micha, R., Peñalvo, J. L., Cudhea, F., Imamura, F., Rehm, C. D., & Mozaffarian, D. 2017. Association Between Dietary Factors and Mortality From Heart Disease, Stroke, and Type 2 Diabetes in the United States. JAMA, 317(9), 912–924..
  5. Rinninella, E., Raoul, P., Cintoni, M., et al. 2019. What is the Healthy Gut Microbiota Composition? Microorganisms, 7(1), 14
  6. Sihite, Nathasa Weisdania dan Mina Sonita Hutasoit. 2023. Potensi Bahan Pangan Lokal Indonesia Sebagai Pangan Fungsional dan Manfaatnya Bagi Kesehatan: A Review. Jurnal Riset Gizi, Vol. 11 No.2

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

Pedoman Gizi Seimbang atau Menu 4 Sehat 5 Sempurna?

Konten Edukasi Jumat, 4 Oktober 2024

Sebelumnya kita mengenal menu 4 Sehat 5 Sempurna yang sudah digaungkan sejak tahun 1952 oleh Prof. Poerwo Soedarmo ‘Bapak Gizi Indonesia’. Menu ini terinspirasi dari Basic Four di Amerika Serikat yang mulai diperkenalkan pada era 1940an. Menu 4 Sehat 5 Sempurna sudah mendarah daging dibenak orang Indonesia, bahkan hingga saat ini masih banyak orang secara spontan menyatakan menu makan bergizi adalah 4 Sehat 5 Sempurna. Menu ini mengingatkan pada makanan yang mempunyai kandungan gizi lengkap yaitu berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Jenis makanan dalam menu ini diantaranya: makanan pokok, aneka lauk pauk, sayur, buah, dan susu.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapai membuat menu 4 Sehat 5 Sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan gizi saat ini. Kementerian Kesehatan Indonesia mengembangkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) pada tahun 1995 dan direvisi pembaruannya tahun 2014 sebagai konsep menu pangan sehat baru di Indonesia. PGS sendiri diambil dari prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet hasil kesepakatan Konferensi Pangan Dunia Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia tahun 1992 yang diyakini akan mampu mengatasi beban ganda masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi. Di Indonesia sendiri menggunakan dua panduan pangan yaitu : Pertama, A rounded pyramid-like shape (Tumpeng Gizi Seimbang) yang mewakili prinsip gizi seimbang. Konsep awal The Food Guide Pyramid yang diperkenalkan oleh United States Department of Agriculture (USDA) pada tahun 1992. PGS secara resmi diterima masyarakat Indonesia pada tahun 2009 sesuai dengan UU Kesehatan No.36 Tahun 2009, yang menyebutkan secara eksplisit “Gizi Seimbang” dalam program perbaikan gizi dan disempurnakan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomer 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Kedua, A plate guide (Piring Makanku, Porsi Sekali Makan) atau lebih familiar ‘Isi Pringku’ yang menggambarkan proporsi kelompok makanan yang disarankan untuk dikonsumsi dalam setiap kali makan.

Sejarah mencatat pada tahun 1995, Menu 4 Sehat 5 Sempurna yang mempunyai 13 pedoman umum gizi seimbang (PUGS) secara rinci menyebutkan bahwa: makan beraneka ragam makanan; makan makanan untuk memenuhi kecukupan energi; makan makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi; membatasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi; menggunakan garam beryodium; makan makanan sumber zat besi; memberikan ASI saja kepada bayi sampai umur enam bulan; membiasakan sarapan pagi; minum air bersih, aman yang cukup jumlahnya; melakukan kegiatan fisik, olah raga secara teratur; menghindari minum minuman beralkohol; makan makanan yang aman bagi kesehatan; membaca label pada makanan yang dikemas. Sembilan tahun kemudian pada tahun 2014, 13 pesan tersebut direvisi kembali menjadi 10 pesan dasar gizi seimbang (PSG) secara rinci adalah sebagai berikut: mensyukuri dan menikmati anekaragam makanan; banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan; membiasakan mengkonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi; membiasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok; membatasi konsumsi pangan manis, asin, dan berlemak; membiasakan sarapan; membiasakan minum air putih yang cukup dan aman; membiasakan membaca label pada kemasan pangan; mencuci tangan memakai sabun dengan air bersih mengalir; dan melakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal.

Perbedaan mendasar antara menu 4 Sehat 5 Sempurna dengan pedoman gizi seimbang adalah konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Penting untuk menerapkan PSG karena dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyatakan bahwa Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyakit kronis yang menyebabkan kematian atau pembiayaan kesehatan terbesar diantaranya berupa asma, kanker secara umum, diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal kronis. Banyak faktor risiko penyebab terjadinya PTM salah satunya konsumsi pangan masyarakat di Indonesia masih belum sesuai dengan pesan gizi seimbang. Data SKI 2023 menunjukkan bahwa 96,7% kurang mengkonsumsi buah dan sayur; 37,0% kurang melakukan aktivitas fisik; 22,46% prevalensi jumlah perokok yang mengkonsumsi rokok setiap hari; 23,4% obesitas dewasa dan 36,8% obesitas sentral.

WHO mengaris bawahi pentingnya menerapkan pola makan yang sehat untuk membantu melindungi dari segala bentuk malnutrisi, serta PTM termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker. Pola makan yang tidak sehat dan kurang aktivitas fisik menyebabkan risiko kesehatan global. Asupan energi (kalori) harus seimbang dengan pengeluaran energi. Untuk menghindari penambahan berat badan yang tidak sehat, total lemak tidak boleh melebihi 30% dari total asupan energi.

Sudah sepantasnya pemerintah Indonesia harus lebih gencar lagi melakukan kampanye sosialisasi, komunikasi, dan edukasi terkait pola makan pedoman gizi seimbang bagi masyarakat agar lebih memahami bahwa menu gizi 4 sehat 5 sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan gizi saat ini dan sudah beralih ke pedoman gizi seimbang. Perlu ditekankan juga pentingnya peran aktif pemangku kepentingan kesehatan yang lain termasuk instansi di bidang Pendidikan, Kebudayaan, Agama, BKKBN, Pertanian, Dalam Negeri, Perindustrian, Perdagangan, Kelautan dan Perikanan, serta Sektor Swasta dan Masyarakat. Apa bila masyarakat sudah mamahani dan dapat menerapkan pedoman gizi seimbang maka niscahya beban ganda masalah gizi di Indonesia dapat terpecahkan dan harapan Indonesia Emas di 2045 dapat tercapai.

 

Kontributor Artikel: Ronny Soviandhi, S.Si., MPH

 

Sumber :

Fadli, Rizal, Kenali Apa Saja Makanan 4 Sehat 5 Sempurna dan Manfaatnya, Halodoc.com, 2023. https://www.halodoc.com/artikel/kenali-apa-saja-makanan-4-sehat-5-sempurna-dan manfaatnya srsltid=AfmBOor3b_aZG9X1ZjvnAa0JsVS3adcoODSLpOPluONW9YwTRUMocToU

Food and Agriculture Organization of the United Nations, Food-Based Dietary Guidelines-Indonesia, 2024. https://www.fao.org/nutrition/education/food- dietary-guidelines/regions/countries/indonesia/en/

Hapsari, Pramesthi W, Khusun, H, Februhartanty, J, Pesan Gizi Seimbang Pada Buku Ajar, Sebuah Upaya Promosi Gizi dan Kesehatan, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutriotion (SEAMEO RECFON), Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR), Universitas Indonesia, 2018. https://www.seameo-recfon.org/wp- content/uploads/2020/11/Pesan-Gizi-Seimbang-pada-Buku-Ajar_Publish- Web-1.pdf

Jacqueline B. Marcus, Chapter 1 – Nutrition Basics: What Is Inside Food, How It Functions and Healthy Guidelines: The Nutrients in Foods and Beverages in Healthy Cooking and Baking, Culinary Nutrition,Academic Press, 2013, Pages 1-50, ISBN 9780123918826, https://doi.org/10.1016/B978-0-12- 391882-6.00001-7.

Kementerian Kesehatan, Inilah Perbedaan “4 Sehat 5 Sempurna” Dengan “Gizi Seimbang”, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, 2016. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis- media/20160505/5214922/inilah-perbedaan-4-sehat-5-sempurna-dengan- gizi-seimbang/

Kementerian Kesehatan, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Dalam Angka, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. http://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/permenkes/pmk-no.-41-ttg-pedoman-gizi-seimbang

World Health Organization, Healthy Diet, Key Fact, 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet

Berita Terkini

  • Diskusi Kasus Kelompok Kesehatan Reproduksi Remaja di MA Miftahunnajah
    12/05/2026
  • Bekali Siswa dengan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi, PKGM Gelar Edukasi di MA Miftahunnajah Sleman
    12/05/2026
  • Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
    21/03/2026
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY