• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 4
Pos oleh :

helmyati

Pedoman Gizi Seimbang atau Menu 4 Sehat 5 Sempurna?

Konten Edukasi Jumat, 4 Oktober 2024

Sebelumnya kita mengenal menu 4 Sehat 5 Sempurna yang sudah digaungkan sejak tahun 1952 oleh Prof. Poerwo Soedarmo ‘Bapak Gizi Indonesia’. Menu ini terinspirasi dari Basic Four di Amerika Serikat yang mulai diperkenalkan pada era 1940an. Menu 4 Sehat 5 Sempurna sudah mendarah daging dibenak orang Indonesia, bahkan hingga saat ini masih banyak orang secara spontan menyatakan menu makan bergizi adalah 4 Sehat 5 Sempurna. Menu ini mengingatkan pada makanan yang mempunyai kandungan gizi lengkap yaitu berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Jenis makanan dalam menu ini diantaranya: makanan pokok, aneka lauk pauk, sayur, buah, dan susu.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapai membuat menu 4 Sehat 5 Sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan gizi saat ini. Kementerian Kesehatan Indonesia mengembangkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) pada tahun 1995 dan direvisi pembaruannya tahun 2014 sebagai konsep menu pangan sehat baru di Indonesia. PGS sendiri diambil dari prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet hasil kesepakatan Konferensi Pangan Dunia Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia tahun 1992 yang diyakini akan mampu mengatasi beban ganda masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi. Di Indonesia sendiri menggunakan dua panduan pangan yaitu : Pertama, A rounded pyramid-like shape (Tumpeng Gizi Seimbang) yang mewakili prinsip gizi seimbang. Konsep awal The Food Guide Pyramid yang diperkenalkan oleh United States Department of Agriculture (USDA) pada tahun 1992. PGS secara resmi diterima masyarakat Indonesia pada tahun 2009 sesuai dengan UU Kesehatan No.36 Tahun 2009, yang menyebutkan secara eksplisit “Gizi Seimbang” dalam program perbaikan gizi dan disempurnakan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomer 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Kedua, A plate guide (Piring Makanku, Porsi Sekali Makan) atau lebih familiar ‘Isi Pringku’ yang menggambarkan proporsi kelompok makanan yang disarankan untuk dikonsumsi dalam setiap kali makan.

Sejarah mencatat pada tahun 1995, Menu 4 Sehat 5 Sempurna yang mempunyai 13 pedoman umum gizi seimbang (PUGS) secara rinci menyebutkan bahwa: makan beraneka ragam makanan; makan makanan untuk memenuhi kecukupan energi; makan makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi; membatasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi; menggunakan garam beryodium; makan makanan sumber zat besi; memberikan ASI saja kepada bayi sampai umur enam bulan; membiasakan sarapan pagi; minum air bersih, aman yang cukup jumlahnya; melakukan kegiatan fisik, olah raga secara teratur; menghindari minum minuman beralkohol; makan makanan yang aman bagi kesehatan; membaca label pada makanan yang dikemas. Sembilan tahun kemudian pada tahun 2014, 13 pesan tersebut direvisi kembali menjadi 10 pesan dasar gizi seimbang (PSG) secara rinci adalah sebagai berikut: mensyukuri dan menikmati anekaragam makanan; banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan; membiasakan mengkonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi; membiasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok; membatasi konsumsi pangan manis, asin, dan berlemak; membiasakan sarapan; membiasakan minum air putih yang cukup dan aman; membiasakan membaca label pada kemasan pangan; mencuci tangan memakai sabun dengan air bersih mengalir; dan melakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal.

Perbedaan mendasar antara menu 4 Sehat 5 Sempurna dengan pedoman gizi seimbang adalah konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Penting untuk menerapkan PSG karena dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyatakan bahwa Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyakit kronis yang menyebabkan kematian atau pembiayaan kesehatan terbesar diantaranya berupa asma, kanker secara umum, diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal kronis. Banyak faktor risiko penyebab terjadinya PTM salah satunya konsumsi pangan masyarakat di Indonesia masih belum sesuai dengan pesan gizi seimbang. Data SKI 2023 menunjukkan bahwa 96,7% kurang mengkonsumsi buah dan sayur; 37,0% kurang melakukan aktivitas fisik; 22,46% prevalensi jumlah perokok yang mengkonsumsi rokok setiap hari; 23,4% obesitas dewasa dan 36,8% obesitas sentral.

WHO mengaris bawahi pentingnya menerapkan pola makan yang sehat untuk membantu melindungi dari segala bentuk malnutrisi, serta PTM termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker. Pola makan yang tidak sehat dan kurang aktivitas fisik menyebabkan risiko kesehatan global. Asupan energi (kalori) harus seimbang dengan pengeluaran energi. Untuk menghindari penambahan berat badan yang tidak sehat, total lemak tidak boleh melebihi 30% dari total asupan energi.

Sudah sepantasnya pemerintah Indonesia harus lebih gencar lagi melakukan kampanye sosialisasi, komunikasi, dan edukasi terkait pola makan pedoman gizi seimbang bagi masyarakat agar lebih memahami bahwa menu gizi 4 sehat 5 sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan gizi saat ini dan sudah beralih ke pedoman gizi seimbang. Perlu ditekankan juga pentingnya peran aktif pemangku kepentingan kesehatan yang lain termasuk instansi di bidang Pendidikan, Kebudayaan, Agama, BKKBN, Pertanian, Dalam Negeri, Perindustrian, Perdagangan, Kelautan dan Perikanan, serta Sektor Swasta dan Masyarakat. Apa bila masyarakat sudah mamahani dan dapat menerapkan pedoman gizi seimbang maka niscahya beban ganda masalah gizi di Indonesia dapat terpecahkan dan harapan Indonesia Emas di 2045 dapat tercapai.

 

Kontributor Artikel: Ronny Soviandhi, S.Si., MPH

 

Sumber :

Fadli, Rizal, Kenali Apa Saja Makanan 4 Sehat 5 Sempurna dan Manfaatnya, Halodoc.com, 2023. https://www.halodoc.com/artikel/kenali-apa-saja-makanan-4-sehat-5-sempurna-dan manfaatnya srsltid=AfmBOor3b_aZG9X1ZjvnAa0JsVS3adcoODSLpOPluONW9YwTRUMocToU

Food and Agriculture Organization of the United Nations, Food-Based Dietary Guidelines-Indonesia, 2024. https://www.fao.org/nutrition/education/food- dietary-guidelines/regions/countries/indonesia/en/

Hapsari, Pramesthi W, Khusun, H, Februhartanty, J, Pesan Gizi Seimbang Pada Buku Ajar, Sebuah Upaya Promosi Gizi dan Kesehatan, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutriotion (SEAMEO RECFON), Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR), Universitas Indonesia, 2018. https://www.seameo-recfon.org/wp- content/uploads/2020/11/Pesan-Gizi-Seimbang-pada-Buku-Ajar_Publish- Web-1.pdf

Jacqueline B. Marcus, Chapter 1 – Nutrition Basics: What Is Inside Food, How It Functions and Healthy Guidelines: The Nutrients in Foods and Beverages in Healthy Cooking and Baking, Culinary Nutrition,Academic Press, 2013, Pages 1-50, ISBN 9780123918826, https://doi.org/10.1016/B978-0-12- 391882-6.00001-7.

Kementerian Kesehatan, Inilah Perbedaan “4 Sehat 5 Sempurna” Dengan “Gizi Seimbang”, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, 2016. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis- media/20160505/5214922/inilah-perbedaan-4-sehat-5-sempurna-dengan- gizi-seimbang/

Kementerian Kesehatan, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Dalam Angka, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. http://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/permenkes/pmk-no.-41-ttg-pedoman-gizi-seimbang

World Health Organization, Healthy Diet, Key Fact, 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet

Lakukan Tips Ini untuk Mengurangi Sampah Sisa Makanan!

Konten Edukasi Kamis, 26 September 2024

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, sampah sisa makanan menyumbang komposisi sampah terbanyak mencapai 40,91%. Sampah sisa makanan merupakan makanan yang masih layak makan namun terbuang karena tidak dimakan. Sampah sisa makanan ini muncul karena beberapa faktor diantaranya karena penyajian yang berlimpah akibat budaya berlebihan dari masyarakat sehingga makanan tidak dihabiskan dan menimbulkan sampah yang sering disebut “leftover” Penyebab lainnya karena perencanaan makanan yang tidak tepat sehingga menimbulkan sisa makanan seperti yang terjadi pada restoran, katering, hingga supermarket.

Sebagai konsumen kita harus lebih bijak dengan memperhatikan kemungkinan adanya timbulan sampah dari makanan yang kita konsumsi. Berikut ini adalah tips yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah sisa makanan:

Memulai makan dengan porsi kecil

Tips ini bisa dilakukan ketika kita bisa secara bebas mengatur porsi makan seperti ketika di rumah atau di tempat makan dengan sistem prasmanan atau buffet. Hal ini memungkinkan untuk kita mengambil porsi secara bertahap sesuai dengan kemampuan makan. Apabila porsi pertama sudah habis dan masih ingin makan, kita bisa mengambilnya lagi sesuai kebutuhan.

Masak sendiri makananmu

Memasak sendiri membuat kita bebas menentukan makanan yang sesuai dengan selera, porsi, dan kemampuan masakmu. Namun memasak sendiri terkadang malah menghasilkan porsi yang lebih banyak dibandingkan porsi yang seharusnya kita makan. Hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan tips ini adalah pastikan melakukan persiapan masak yang tepat termasuk menghitung jumlah porsi. Jika dirasa porsi makanan yang dimasak terlalu banyak, kita bisa menyimpannya di dalam kulkas dan mengonsumsinya di lain waktu.

Simpan sisa porsi makanmu yang tidak termakan

Sisa porsi makanan yang tidak tersentuh bisa kita simpan tempat penyimpanan yang aman seperti kulkas untuk dikonsumsi lagi di lain waktu. Kita bisa juga mengolah sisa makanan dengan mencampurkan ke dalam makanan lain. Sisa sayuran bisa digunakan untuk tumisan. Bumbu halus bisa ditambahkan ke dalam sup atau saus. Buah potong bisa diolah kembali menjadi smoothie. Susu yang tidak habis bisa dicampurkan ke kopi.

Hindari waktu snacking berdekatan dengan jam makan utama

Tujuan snacking atau ngemil sebenarnya adalah untuk memenuhi asupan energi tubuh dalam jumlah yang kecil di antara jam makan utama. Ngemil sebaiknya tidak dengan makanan yang berat atau satu porsi lengkap. Ngemil juga tidak dianjurkan dilakukan mendekati jam makan utama baik ketika sarapan, makan siang, atau makan malam. Hal ini untuk menghindari perut merasa kenyang lebih awal sehingga ketika jam makan utama malah tidak antusias untuk menghabiskan makanan. Cobalah untuk mengatur jarak waktu snacking dan makan utama sekitar 2 jam. Contoh kita terbiasa sarapan di jam 7 pagi dan makan siang di jam 12, maka waktu yang pas untuk ngemil adalah pukul 9 hingga 10. 

 

Sumber: Guelph Family Health Study. (2019). Rock What You’ve Got: Recipes for Preventing Food Waste. Guelph Family Health Study

Edukasi Tentang Gizi Seimbang, Anemia, dan Keamanan Pangan di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ)

Berita Kamis, 26 September 2024

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia Bersama dengan Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Arab Saudi pada 24-25 September 2024. Kegiatan terdiri dari pemberian edukasi tentang gizi seimbang, anemia, dan keamanan pangan kepada siswa dan orang tua serta pengukuran status gizi siswa. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak SIJ baik guru maupun siswa. Pada kesempatan yang sama tim abdimas PKGM dan Departemen Gizi juga mengunjungi Kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia Jeddah.Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat dan mendorong kemitraan PKGM yang lebih luas.

Kegiatan ini mendukung tujuan SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan, SDG 3: Kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 4: Pendidikan berkualitas, dan SDG 5: kesetaraan gender

Pahami Tentang Sustainable Healthy Diet, makan sehat yang ramah lingkungan.

Konten Edukasi Kamis, 19 September 2024

Apakah pernah terpikir bahwa kebiasaan makan kita selain berdampak pada kesehatan tubuh juga berpengaruh kepada lingkungan? 

Faktanya setiap orang berkontribusi pada dampak yang ditimbulkan oleh sistem pangan kita terhadap bumi. Tetapi kita juga bisa membuat bumi semakin sehat untuk ditinggali, melalui perubahan kecil yang dapat dilakukan pada pola makan. 

Apa itu Sustainable Healthy Diet?

Sustainable healthy diet atau makan sehat berkelanjutan adalah pola makan yang mempromosikan semua dimensi kesehatan dan kesejahteraan individu; memiliki tekanan dan dampak lingkungan yang rendah; dapat diakses, terjangkau, aman dan adil; dan dapat diterima secara budaya (WHO, 2019). Secara sederhana, pola makan berkelanjutan adalah pola makan yang memberikan dampak positif terhadap kesehatan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pola makan sehat berkelanjutan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal semua individu dan mendukung fungsi dan kesejahteraan fisik, mental dan sosial di semua tahap kehidupan untuk generasi sekarang dan mendatang. Makan sehat dan berkelanjutan berkontribusi untuk mencegah segala bentuk masalah gizi, mengurangi risiko penyakit tidak menular yang berkaitan dengan makan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan bumi.

Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan agar makan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan :

1.Makan lebih banyak sayur dan buah

Sayur dan buah merupakan pilihan makanan yang lebih sehat dan memiliki dampak terhadap lingkungan lebih rendah dibandingkan daging, susu, dan produk pangan olahan. Sebagian besar komponen sayur dan buah bisa dikonsumsi sehingga menghasilkan timbulan sampah yang lebih sedikit. Selain itu sayur dan buah bisa dikonsumsi tanpa harus diolah sehingga mengurangi penggunaan energi.

2.Membatasi konsumsi sumber pangan hewani

Bahan pangan hewani seperti daging adalah sumber protein yang tinggi bagi tubuh. Meskipun demikian, rantai pasokan produk peternakan ternyata menyumbang 14,5% dari emisi gas rumah kaca global. Pola makan berkelanjutan mendorong kita untuk lebih bijak dalam mengonsumsi pangan hewani agar tidak menimbulkan beban masalah lingkungan yang besar.

3.Menanam sendiri sayuran

Kita bisa membuat pilihan sayur yang lebih sehat dari sumber yang tidak tercemar. Menanam sendiri juga bisa mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan transportasi karena tidak perlu berkendara untuk membeli sayuran.

4.Mengurangi sampah sisa makanan 

Tips untuk mengurangi sampah sisa makanan adalah makan secukupnya dan tidak 

berlebihan, membuat meal planning, atau mengolah kembali sisa makanan yang bisa dimanfaatkan misal untuk makanan ternak atau pupuk organik.

5.Meminimalisir penggunaan plastik kemasan

Plastik menyumbang timbunan sampah terbanyak kedua setelah sisa makanan. Untuk mengurangi penggunan plastik kemasan makanan kita bisa mulai membawa tempat makanan dan minuman/tumbler sendiri ketika sedang bepergian. Jika berbelanja di supermarket sebaiknya menggunakan tas belanja sendiri.

6.Makan pangan lokal sesuai dengan musim

Memilih makanan yang ada di sekitar kita adalah salah satu prinsip makan berkelanjutan karena lebih mudah dijangkau dan menghemat biaya serta energi. 

7.Hindari memilih makanan olahan 

Selain tidak baik untuk kesehatan dan menghilangkan sebagian besar zat gizi dalam 

prosesnya, makanan olahan membutuhkan banyak sumber daya dalam produksi. Biasakan membeli makanan dalam bentuk utuh dan belum diproses, dan mengolah sendiri dengan pengolahan yang sederhana.

8.Makan dengan penuh kesadaran (mindful eating)

Mindful eating berarti menghindari gangguan ketika makan dan fokus melibatkan seluruh indera dan emosi untuk menikmati makanan. Seseorang yang tidak menerapkan mindful eating (mindless eating) dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti gangguan kecemasan dan penambahan berat badan karena makan berlebihan. Contoh mindless eating adalah makan sambil mengemudi, sambil bekerja, melihat ponsel.

 

Sumber:

Helmyati dkk. 2024. Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia

Talk Show Gizi dan Kebugaran oleh Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia Bahas Pentingnya Asupan dan Olahraga untuk Cegah Obesitas.

Berita Selasa, 17 September 2024

Sleman, PKGM – Sabtu, 14 September 2024, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM menyelenggarakan talk show tentang gizi dan kebugaran yang ditujukan bagi masyarakat umum.

Talk show bertema “Berlari atau Berjalan? Memilih Olahraga Efektif untuk Turunkan Berat Badan” ini dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan disiarkan langsung pada kanal YouTube PKGM.

Dalam pembukaannya, Ibu Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes selaku Ketua PKGM menyampaikan bahwa angka obesitas di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2018 hingga 2023. Ibu Helmyati juga menyebutkan berkembangnya tren “weight loss journey” di media sosial membuat masyarakat lebih aware dengan masalah kelebihan berat badan dan terinspirasi untuk menjalankan pola hidup lebih sehat dengan berolahraga. Melalui talk show ini PKGM membahas fenomena penurunan berat badan pada orang dengan kegemukan atau obesitas melalui pendekatan keilmuan gizi dan olahraga.

Dua narasumber dihadirkan saat talk show. Antara lain Diwyacitta Pahdarina, S.Gz., CSN, seorang sport nutrition advisor yang aktif sebagai konsultan gizi dan kerap membagikan konten tentang gizi kesehatan dan olahraga di instagramnya @pahdarina.ahligizi. Pahdarina mengisi sesi pertama talk show dengan membahas tentang bahaya obesitas dan bagaimana memilih olahraga yang efektif untuk menurunkan berat badan bagi seseorang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

“Olahraga yang efektif adalah olahraga yang paling disukai dan paling bisa dilakukan secara konsisten” ungkapnya.

Pada sesi ini pahdarina juga menjelaskan tentang perbedaan efektivitas berlari dan berjalan kaki. Yang terpenting menurut Pahdarina, bagi seseorang dengan obesitas, penting untuk memastikan olahraga yang aman dengan memilih low-impact exercise agar tidak menimbulkan cidera.

Narasumber lainnya adalah Saskia Fika Ilmiyani, S.Gz., RD, seorang dietisien klinis yang juga aktif sebagai pelari. Saskia mengisi materi tentang cara menyusun gizi yang tepat bagi seseorang pelari dan tips agar mencapai performa maksimal saat berolahraga. Sebagai seseorang yang aktif dalam olahraga berlari, Saskia turut membagikan cerita pengalamannya hingga mampu mencapai personal best.

“Bertemu teman-teman yang memang suka berlari atau gabung di komunitas lari yang sekarang bisa banyak ditemukan” pungkas Saskia, yang turut menekankan pentingnya menemukan lingkungan suportif agar bisa konsisten dalam berolahraga.

Moderator memandu sesi tanya jawab yang cukup aktif. Pertanyaan diajukan oleh para peserta baik dari di zoom maupun kanal YouTube. Pada akhir sesi, moderator membacakan para peserta yang beruntung mendapatkan goodie bag menarik dari panitia dan menutup acara talk show dengan foto bersama.

Kegiatan ini sebagi bentuk komitmen PKGM untuk mendukung tujuan pembagunan berkelanjutan ketiga yaitu menciptakan kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta tujuan keempat yaitu mendukung pendidikan bermutu bagi masyarakat. (Kontributor: LA)

Mengenal Istilah Food Loss dan Food Waste dan Situasinya di Indonesia

Konten Edukasi Kamis, 12 September 2024

Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan bahwa sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi, berakhir hilang atau terbuang saat proses panen dan konsumsi, yang dikenal dengan istilah food loss dan food waste. Di tingkat global, food loss dan food waste berkontribusi pada 4.4 gigaton emisi gas rumah kaca (FAO, 2015). Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, sisa makanan menyumbang kontribusi terbesar sampah dengan persentase mencapai 40,91%, lebih banyak dibandingkan sampah plastik sebesar 19,18%. Selama ini kesadaran masyarakat akan sampah lebih banyak terpusat pada sampah plastik. Sebaliknya, sampah sisa makanan masih dipandang sebelah mata. Padahal sampah sisa makanan memberikan dampak negatif juga terhadap lingkungan.

Apa itu Food Loss dan Food Waste?

Food loss merujuk pada makanan yang hilang di berbagai tahap produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan sebelum mencapai tahap konsumsi. Sedangkan food waste adalah sisa makanan masih layak konsumsi yang terbuang sebagai sampah. 

Food Loss dapat terjadi sejak tahap produksi hingga distribusi, seperti hasil panen rusak karena cuaca ekstrem, makanan mengalami kerusakan selama transportasi, penyimpanan yang tidak 

tepat sehingga makanan menjadi tidak layak konsumsi sebelum sampai ke konsumen. Food waste sering ditemukan di tahap konsumsi di akhir rantai pasok makanan, seperti di rumah tangga, restoran, atau supermarket. Ruang lingkup food loss dan food waste dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Ruang Lingkup Food Loss dan Food Waste

Sumber: Bappenas. (2021). Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Penyebab Food Loss dan Food Waste

Penyebab food loss dan food waste berasal dari aspek yang cukup berbeda. Food loss dapat disebabkan karena faktor eksternal manusia seperti kondisi lingkungan, infrastruktur yang buruk, dan praktik manajemen yang tidak efisien selama produksi hingga distribusi. Sedangkan food waste sebagian besar timbul karena faktor internal seseorang seperti konsumen tidak menyukai makanan, mempersiapkan makanan dengan berlebihan, kesadaran yang kurang akan nilai makanan, dan perhatian yang kurang terhadap manajemen sisa makanan. Penyebab food waste lainnya adalah terkait keamanan pangan karena makanan melebihi tanggal kadaluarsa. 

Situasi dan Dampak Food Loss dan Food Waste di Indonesia

Bappenas Republik Indonesia telah merilis Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia tahun 2021. Bappenas melaporkan timbulan food loss dan food waste di Indonesia pada tahun 2000-2019 mencapai angka 115-184 kg/kapita/tahun atau rata-rata dalam satu bulan seseorang bisa menghasilkan 9,6-15,3 kg timbulan food lost dan food waste. Dari aspek tahap rantai pasok, timbulan terbesar di temukan di tahap konsumsi. Dari aspek sektor dan jenis pangan, timbulan terbesar terjadi di tanaman pangan kategori padi-padian. Sementara sektor pangan paling tidak efisien adalah tanaman hortikultura, yaitu di kategori sayur-sayuran. 

Dampak yang ditimbulkan dari food loss dan food waste mengancam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya lingkungan namun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam rentang waktu 2000 hingga 2019, total emisi timbulan Food loss dan food waste diestimasi mencapai 1.702,9 Mt CO2, ek, dengan rata-rata kontribusi per tahun setara dengan 7,29% emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia. Kerugian dari timbulan food loss dan food waste tersebut diperkirakan mencapai 213-551 triliun rupiah/tahun atau setara dengan 4-5% PDB Indonesia. Jumlah orang yang dapat diberi makan dari kehilangan kandungan gizi dari food loss dan food waste tahun 2000-2019 adalah sebanyak 61-125 juta orang atau 29, 47% populasi Indonesia. 

Ancaman food loss dan food waste harus disikapi oleh setiap orang dengan lebih bijak dan sadar akan pentingnya menghargai makanan sehingga jumlah kehilangan dan sampah yang dihasilkan dapat ditekan seminimal mungkin. 

 

Sumber:

Helmyati dkk. 2024. Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia

Peneliti dari Pusat Kesehatan Gizi dan Manusia Lakukan Pemaparan Hasil Kajian Beras Fortifikasi

Berita Selasa, 10 September 2024

Jakarta, PKGM – Selasa, 3 September 2024, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM melakukan kunjungan ke Perum BULOG Pusat di BULOG Corporate University untuk melakukan presentasi hasil kajian. Tim PKGM diwakilkan oleh Dr. Siti Helmyati, DCN., M. Kes selaku ketua peneliti dan lima anggota lainnya. Turut hadir dari Perum BULOG perwakilan dari Divisi Riset, Perencanaan Strategis, dan Analisis Kebijakan, Divisi Manajemen Mutu, Divisi Penjualan, Divisi Pemasaran dan Pengembangan Bisnis, serta Divisi Pengadaan dan Manajemen Produk. Kegiatan dibuka dan dipandu oleh Bapak Amrullah selaku kepala Pusat Riset, Perencanaan Strategis dan Analisis Kebijakan.

Hasil kajian PKGM dipaparkan oleh Lintang Aryanti, S.Gz. dengan judul “Uji Efikasi Beras Fortivit pada Balita Stunted dan Remaja Putri: Pendekatan pada Remaja Putri dan Balita untuk Mengatasi Malnutrisi”. Di hadapan tim Perum BULOG, Lintang menyampaikan temuan-temuan yang didapatkan dari hasil kajian intervensi pemberian beras fortifikasi “Fortivit” dan efeknya terhadap status gizi balita stunted dan remaja putri. Selain itu, dipaparkan juga analisis keunggulan beras fortifikasi “Fortivit” dan peluang pengembangannya di masa mendatang. Pemaparan diapresiasi dengan baik oleh tim Perum BULOG Pusat dan setiap divisi menyampaikan tanggapan terhadap temuan. Pada kesempatan ini, tim peneliti memberikan beberapa saran dan rekomendasi untuk pengembangan beras fortifikasi berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan.

Hal yang melatar belakangi mengapa kajian ini dilakukan adalah karena stunting masih menjadi isu kesehatan nasional prioritas sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024. Upaya percepatan penurunan stunting digalakkan oleh pemerintah Indonesia dengan pendekatan spesifik dan sensitif, dilaksanakan secara konvergen, holistik, serta multisektor. Meskipun stunting terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu pada masa kehamilan hingga anak lahir dan berusia 2 tahun, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin sejak masa remaja. Di satu sisi, ancaman masalah gizi anemia mengancam remaja putri di Indonesia. Beras masih menjadi komoditas utama makanan pokok masyarakat Indonesia. Sayangnya beras hanya mampu memberikan sumbangsih kalori tetapi rendah zat gizi mikro. Sehingga fortifikasi beras dapat menjadi strategi yang prospektif dalam mengatasi kekurangan gizi mikro untuk masalah anemia dan stunting di Indonesia. 

Kegiatan ini memberikan angin segar dalam penanganan masalah gizi di Indonesia khususnya anemia dan stunting. Tim Perum BULOG Pusat berkomitmen untuk menghasilkan beras fortifikasi yang memiliki nilai gizi unggul namun dapat bersaing di pasar dan diminati oleh masyarakat. Harapannya hasil kajian ini dapat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan ke 2 dan 3 yaitu menghapus kelaparan dan menciptakan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Kerjasama antara PKGM dan Perum BULOG menjadi contoh pentingnya kemitraan antara institusi perguruan tinggi dan lembaga pemerintah guna mendukung pengembangan bisnis berbasis riset.

 

Kontributor: Ulfatul Karomah & Heriski Dwiutami

 

Focus Group Discussion Bersama Kader Pelaksana Kegiatan dan Stakeholder Program Implementasi Model Best Practice Kampung KB BKKBN

Berita Sabtu, 31 Agustus 2024

Sleman, PKGM – Tim dari Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia melaksanakan focus group discussion (FGD) tentang program penanganan stunting di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman pada Rabu, 14 dan 21 Agustus 2024. FGD ini merupakan rangkaian kegiatan pendampingan Implementasi Model Best Practice Kampung Keluarga Berkualitas (KB) yang dilaksanakan oleh Perwakilan BKKBN DIY di Kampung KB Kalurahan Condongcatur. 

FGD pertama dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2024 berlokasi di rumah kepala dusun Gempol. Peserta merupakan kader dan tim pelaksana program model best practice kampung KB yang erdiri dari kader Posyandu, kader Bina Keluarga Balita (BKB), kader Kampung KB, Penyuluh KB, dan kader DASHAT. Sebanyak 11 orang hadir mengikuti diskusi yang dipandu oleh Tim dari PKGM. Selang seminggu kemudian, pada tanggal 21 Agustus 2024, PKGM kembali melakukan diskusi bersama para pihak terkait program stunting di wilayah Kalurahan Condongcatur. FGD kedua ini mengundang sebanyak 12 peserta perwakilan dari Puskesmas, Pemerintah Desa/Kalurahan, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa, tim penggerak PKK, tokoh adat/masyarakat, dan tokoh agama. 

Kegiatan FGD ini bertujuan untuk menggali informasi terkait pelaksanaan program pencegahan dan penanggulangan stunting yang sedang berjalan serta bagaimana komitmen seluruh pihak masyarakat dalam mewujudkan program tersebut. Secara khusus tim PKGM juga menanyakan tentang evaluasi kegiatan implementasi model best practice kampung KB yang dilaksanakan di BKB Warna Warni Dusun Gempol.

Sudah banyak program stunting yang dilaksanakan di Kalurahan Condongcatur mengingat wilayah ini sempat menjadi lokus stunting. Program-program baik dari pemerintah pusat maupun daerah diimplementasikan oleh pemerintah desa dengan melibatkan puskesmas maupun kader-kader di masyarakat. Para kader berusaha untuk menjalankan tugas sebaik mungkin meskipun terkadang terkendala dengan pembiayaan yang terbatas dan banyaknya pelaporan. Pihak pemerintah desa dan kader berharap akan lebih banyak institusi pendidikan dan swasta yang ikut mendukung program stunting di masyarakat. Hasil diskusi ini dijadikan bahan pertimbangan tim PKGM dalam melakukan evaluasi program dan menyusun rekomendasi kebijakan terkait model best practice kampung KB untuk percepatan penurunan stunting. 

Kegiatan ini turut mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan ke 3 yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.

Open Kontributor Artikel

Berita Selasa, 27 Agustus 2024

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM membuka kesempatan bagi mahasiswa dan alumni Gizi Kesehatan UGM untuk menjadi kontributor artikel kesehatan di PKGM. Program ini terbuka sepanjang tahun lho.. untuk ketentuan lebih lanjut bisa klik di link: bit.ly/ketentuanartikelPKGM

Ayo submit tulisanmu seakarang dan dapatkan feenya!

More info
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id
Instagram: pkgm.ugm
Website: pkgm.fk.ugm.ac.id

Audiensi Hasil Penelitian: Pangan Kebutuhan Medis Khusus (PKMK) dalam Pengendalian Malnutrisi dan Stunting

Berita Jumat, 9 Agustus 2024

Sleman, PKGM – Kamis, 8 Agustus 2024, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM melakukan audiensi daring melalui zoom meeting bersama Bebas Stunting Indonesia. Tim PKGM dihadiri oleh Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes selaku ketua peneliti dan 4 anggota tim lainnya sedangkan dari Tim Bebas Stunting Indonesia hadir 3 orang yaitu Roosje Kumara R, dr. Tono Rustiano, dan Lenny Marlina.

Audiensi bertujuan untuk penyampaian hasil kajian PKGM terkait Pangan Kebutuhan Medis Khusus (PKMK) dalam pengendalian malnutrisi dan stunting kepada Bebas Stunting Indonesia sebagai NGO yang aktif bergerak membantu menurunkan stunting di pusat maupun daerah.
Kegiatan audiensi dipandu oleh moderator, Gifani Rosili dan diawali dengan sambutan dan perkenalan dari Tim PKGM oleh Ibu Siti Helmyati. Ibu Roosje Kumara dari Bebas Stunting Indonesia turut memperkenalkan tim dan menyampaikan program-programnya yang sedang berjalan. Bebas Stunting Indonesia memiliki kegiatan utama melakukan advokasi berdasarkan hasil hajian.

Hasil kajian PKGM dipaparkan oleh Cut Alima Syarifa, S.Gz., Dietisien. Alima membahas terkait manfaat dan efektivitas biaya penggunaan ONS sebagai PKMK dalam penanganan malnutrisi dan stunting, gambaran penanganan malnutrisi dan stunting dengan PKMK di DIY, gambaran pembiayaan penanganan malnutrisi dan stunting dengan PKMK, dan abstrak protokol studi.

Paparan tersebut ditanggapi dengan baik oleh tim Bebas Stunting Indonesia. Ibu Roosje menyampaikan hasil kajian timnya menunjukkan intervensi PKMK berhasil menurunkan peningkatan status gizi dari pendek menjadi normal sebesar 37,5% dan dari sangat pendek menjadi pendek sebesar 12,8%. Menurut Bu Roosje PKMK menjadi harapan baru dalam penanganan stunting di Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya ditemukan masalah pada tingkat kedatangan kontrol pasien. Ditemukan adanya beban biaya yang harus ditanggung oleh pasien penerima PKMK seperti biaya transportasi saat kontrol ke rumah sakit mengingat di daerah lain RS rujukan stunting jumlahnya masih terbatas. Diskusi berjalan dua arah, baik tim PKGM maupun tim Bebas Stunting Indonesia membagikan pengalaman kajian-kajian stunting yang pernah dilakukan.

Kegiatan ini turut mendukung keberhasilan tujuan pembangunan berkelanjutan ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Ibu Siti Helmyati berharap dengan dilaksanakannya audiensi bisa menciptakan kolaborasi antara PKGM dan Bebas Stunting Indonesia di masa mendatang khususnya dalam penanganan masalah stunting di Indonesia.

Kontributor: Lintang Aryanti

123456…15

Berita Terkini

  • Diskusi Kasus Kelompok Kesehatan Reproduksi Remaja di MA Miftahunnajah
    12/05/2026
  • Bekali Siswa dengan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi, PKGM Gelar Edukasi di MA Miftahunnajah Sleman
    12/05/2026
  • Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
    21/03/2026
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY